Doc : Pribadi
Detik demi detik
hingga menit bahkan jam menuju hari demi hari berlalu begitu saja mengisahkan
sisa umur kita yang semakin sedikit di dunia. Menjadi anak pertama rasanya ada
tanggung jawab yang tidak mampu dijelaskan. Bukan berarti ketika bukan anak
pertama lepas tanggung jawab, menurut ku hanya berbeda pada bentuk tanggung
jawabnya. Setelah aku menyelesaikan studi ku kini aku memberanikan diri
mengutarakan pada amy perihal kelanjutan langkah yang akan aku ambil. Berhubung
punya saudara yang berbeda pulau rasanya ingin pula ikut menyebrang pulau. Kendalanya
sepertinya aku sedang berada di zona nyamanku, belum mau pindah kemana-mana. Walaupun
sudah lulus masih setia dengan kantor yang sekarang. Masih dengan apa-apa dan
ami yang penuhi. Hidup adalah pilihan dan aku menentukan pilihan pada ambil
studi lagi yang insyaAllah bisa terrealisasi tahun ini. Kuharap yang membacanya
ikut meng-amin-kan semoga yang menjadi keinginan ku dan keinginan kalian
sama-sama di ijabah oleh Allah SWT.
Awalnya mengambil
kuliah lagi belum mendapat restu dari amy, pasalnya uang kerja ku selalu hampir
lebih dari lima puluh persen kugunakan untuk membayar kuliah dan membeli buku
atau novel yang menjadi hobbi. Bersyukur karena rezeki digunakan untuk
sebaik-baiknya insyaAllah. Kemungkinan besar amy prihatin karena melihat aku
selalu mementingkan yang lain daripada keperluan sendiri. Dari sini aku belajar
dengan menghitung budget bulanan ku dengan teliti. Aku ingat sekali alasan ku
mengambil sekolah akuntansi semasa lulus Sekolah menengah pertama. Pilihan sekolah
yang banyak, tetap membawa ku berlabuh pada sekolah akuntansi yang jauh dari
tempat tinggal ku dan aku belum pernah mengunjungi sebelumnya.
Informasi kudapatkan
berasal dari spanduk ataupun kertas selebaran. Awalnya babe sedikit kurang
rekomen karena biasanya dikeluarga gak ada yang sekolah menegah kejuruan tapi
kenapa pula aku menjatuhkan pilihan pada sekolah menengah kejuruan. Alasannya hanya
satu waktu kelulusan lagi genting-gentingnya keuangan keluarga. Berbekal belajar
jasa pembukuan di sekolah menengah pertama aku mengetahui sekali apa yang
sedang terjadi dikeuangan milik babe. So far, pilihan sekolah yang sudah jatuh
hati pun aku coret langsung memilih sekolah menengah kejuruan. Kala itu aku
hanya menjawab “babe kalau nanti sekolah nya kejuruan , kalau gak bisa langsung
kuliah aku bisa kerja dulu atau nanti bisa kerja kuliah”. Ternyata nikmat Allah
luar biasa, ucapan ku terijabah hingga sarjana ku selesai. Seperti nya kala itu
babe paham betul aku sedang mencoba menguatkan.
Mengikhlaskan dan
menyukai dengan penerimaan hati yang lapang merupakan anugrah yang wajib
disyukuri. Dari situ aku belajar ketika pilihan sudah dijatuhkan bergeraklah
dengan penuh semangat semampu kita. Karena dampaknya pun kediri kita sendiri. Beruntungnya
adalah sekolah akuntansi ku jauh dari tempat yang kebutuhan tersiernya tinggi
jadi sikap kekeluargaan mereka masih terasa. Yaps masih seperti saudara sendiri
sampai sekarang. Masih sering berkunjung kerumah dan biasanya ada acara
silahturahmi dengan sahabat kalau satu bulan sekali. Kita gak lepas komunikasi
masih sama berbagi cerita dan saling memberikan masukan masing-masing.
Yang gak kalah serunya
guru-guru akuntansinya disiplin disiplin itu kenapa sampai sekarang laporan
keuangan ku juga di siplin hihihi.. itu kelebihannya beruntung aku ambil
kejuruan akuntansi. Menyelesaikan sekolah sarjana dengan biaya sendiri. Tetapi
kalau biaya lain-lain tetap minta amy :D maklum lah ya beruntungnya jadi anak
manja mah gini nich. Mandiri itu gak berarti gak manja. Sudah ada didalam diri
wanita itu manja. Hanya saja pilihannya manja itu banyak. Kalau aku sich setuju
manja karena hatinya lembut hihihi. Walaupun berkerja keras karena memang punya tanggung jawab tetap bakalan ada
tempat untuk luluh. Jadi wanita memang harus kuat tapi bukan untuk mengalahkan
termaksud pada kelak yang bakalan nemenin kita menyempurnakan separuh agama kan
ya. Kelau berjalan bisa beriringan kenapa juga harus memilih menjadi pemenang. Pemenang
itu nanti ketika kelak membangun rumah tangga samai ke syurga .. InsyaAllah
Semangat membahas
untuk birrul walidain dulu. Birrul
walidain adalah bagian dalam etika Islam
yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Semalam entah atas dasar apa
ami menanyakan tentang kesiapan aku menikah. Tepatnya tahun kemarin sebelum aku
di wisuda aku sempat mengutarakan bagaimana murobi/wali menyatakan tentang
taaruf. Amy adalah tempat aku sharring dan respon amy mengungkap bahwasanya aku
masihlah sangat muda. Mungkin melihat dari umur amy pun menikah diusia dua
puluh dua tahun. Amy mengutarakan untuk aku giat bekerja dulu. Dan aku putuskan
“iya” untuk tidak membahas taarufku lagi. Dan entah ada apa semalam seperti amy
mengungkapkan lagi perihal itu. Apakah aku memang mau menikah ditahun ini ?
Jawaban
ku hambar karena aku tahu amy belum memberikan restu dengan hati yang lapang. Ketika
aku berbicara ingin mengabil tesis pun sepertinya jawabannya sama menginginkan
aku untuk menabung untuk hal lain. Lambat laun pun luluh mengizinkan untuk aku
ambil studi tesis. Percakapan semalam pun berakhir dan berkesimpulan untuk aku
tidak membahasnnya lagi. Satu kata yang terngiang di telinga “andaikan amy dulu
ada yang memberikan saran tentang bekal menikah, amy pasti akan menundanya dan
menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya”. Agak alot percakapan semalam tetapi aku
tahu sayangnya amy agar aku paham betul hakikatnya menikah.
Pesan
murabi/wali ku birrul walidain itu wajib dan menikah itu sunah. Kuharap postingan
ini sebagai bentuk belajar bahwa menikah itu bukan hanya perkara siap dan
menyiapkan ternyata ada yang penting restu. Karena kita sadar Ridho Allah itu Ridho orangtua. Taaruf memang lagi trendy dan menikah muda juga gak kalah ngehits.
Tetap harus diingat kita harus belajar ilmunya dulu karena kita yang
menjalankan. Menikah bukan untuk membuktikan kepada dia ataupun mereka. Menikah
merupakan penyempurnaan separuh agama dan kita menjalankan sunah nabi kita. semoga
semua sesuai syariat islam dan Allah meridhoi langkah kita.
Afwan jiddan, anak amy tetap akan belajar sampai amy restu dan meng-iya-kan dengan senyuman. Paham my akupun mengkaji islam baru seujung kuku. Satu yang pasti my, setiap detik kita sudah ada yang atur dan kita lebih berjodoh pada kematian. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita. Jodoh kita ketika yang mengucap akad didepan wali kita…kalau yang masih diluaran sampai belum proses akad itu masih milik Allah karena diri ini pun milik Allah dan ini hanya titipin. Bersabarlah wahai hati belajar memantaskan diri kepada ilahi Rabbi. InsyaAllah inilah inti sebuah cerita, harapan setiap hambanya adalah ampunan sang pencipta dan syafaat dari Rasul kita.
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi Muslim dan Muslimah mulai dari dalam
kandungan hingga liang lahat.” (HR.
Bukhari).

No comments:
Post a Comment