Friday, January 15, 2016

Waktu VS Rasa

Doc : Pribadi

Detik demi detik hingga menit bahkan jam menuju hari demi hari berlalu begitu saja mengisahkan sisa umur kita yang semakin sedikit di dunia. Menjadi anak pertama rasanya ada tanggung jawab yang tidak mampu dijelaskan. Bukan berarti ketika bukan anak pertama lepas tanggung jawab, menurut ku hanya berbeda pada bentuk tanggung jawabnya. Setelah aku menyelesaikan studi ku kini aku memberanikan diri mengutarakan pada amy perihal kelanjutan langkah yang akan aku ambil. Berhubung punya saudara yang berbeda pulau rasanya ingin pula ikut menyebrang pulau. Kendalanya sepertinya aku sedang berada di zona nyamanku, belum mau pindah kemana-mana. Walaupun sudah lulus masih setia dengan kantor yang sekarang. Masih dengan apa-apa dan ami yang penuhi. Hidup adalah pilihan dan aku menentukan pilihan pada ambil studi lagi yang insyaAllah bisa terrealisasi tahun ini. Kuharap yang membacanya ikut meng-amin-kan semoga yang menjadi keinginan ku dan keinginan kalian sama-sama di ijabah oleh Allah SWT.

Awalnya mengambil kuliah lagi belum mendapat restu dari amy, pasalnya uang kerja ku selalu hampir lebih dari lima puluh persen kugunakan untuk membayar kuliah dan membeli buku atau novel yang menjadi hobbi. Bersyukur karena rezeki digunakan untuk sebaik-baiknya insyaAllah. Kemungkinan besar amy prihatin karena melihat aku selalu mementingkan yang lain daripada keperluan sendiri. Dari sini aku belajar dengan menghitung budget bulanan ku dengan teliti. Aku ingat sekali alasan ku mengambil sekolah akuntansi semasa lulus Sekolah menengah pertama. Pilihan sekolah yang banyak, tetap membawa ku berlabuh pada sekolah akuntansi yang jauh dari tempat tinggal ku dan aku belum pernah mengunjungi sebelumnya.

Informasi kudapatkan berasal dari spanduk ataupun kertas selebaran. Awalnya babe sedikit kurang rekomen karena biasanya dikeluarga gak ada yang sekolah menegah kejuruan tapi kenapa pula aku menjatuhkan pilihan pada sekolah menengah kejuruan. Alasannya hanya satu waktu kelulusan lagi genting-gentingnya keuangan keluarga. Berbekal belajar jasa pembukuan di sekolah menengah pertama aku mengetahui sekali apa yang sedang terjadi dikeuangan milik babe. So far, pilihan sekolah yang sudah jatuh hati pun aku coret langsung memilih sekolah menengah kejuruan. Kala itu aku hanya menjawab “babe kalau nanti sekolah nya kejuruan , kalau gak bisa langsung kuliah aku bisa kerja dulu atau nanti bisa kerja kuliah”. Ternyata nikmat Allah luar biasa, ucapan ku terijabah hingga sarjana ku selesai. Seperti nya kala itu babe paham betul aku sedang mencoba menguatkan.

Mengikhlaskan dan menyukai dengan penerimaan hati yang lapang merupakan anugrah yang wajib disyukuri. Dari situ aku belajar ketika pilihan sudah dijatuhkan bergeraklah dengan penuh semangat semampu kita. Karena dampaknya pun kediri kita sendiri. Beruntungnya adalah sekolah akuntansi ku jauh dari tempat yang kebutuhan tersiernya tinggi jadi sikap kekeluargaan mereka masih terasa. Yaps masih seperti saudara sendiri sampai sekarang. Masih sering berkunjung kerumah dan biasanya ada acara silahturahmi dengan sahabat kalau satu bulan sekali. Kita gak lepas komunikasi masih sama berbagi cerita dan saling memberikan masukan masing-masing.

Yang gak kalah serunya guru-guru akuntansinya disiplin disiplin itu kenapa sampai sekarang laporan keuangan ku juga di siplin hihihi.. itu kelebihannya beruntung aku ambil kejuruan akuntansi. Menyelesaikan sekolah sarjana dengan biaya sendiri. Tetapi kalau biaya lain-lain tetap minta amy :D maklum lah ya beruntungnya jadi anak manja mah gini nich. Mandiri itu gak berarti gak manja. Sudah ada didalam diri wanita itu manja. Hanya saja pilihannya manja itu banyak. Kalau aku sich setuju manja karena hatinya lembut hihihi. Walaupun berkerja keras karena  memang punya tanggung jawab tetap bakalan ada tempat untuk luluh. Jadi wanita memang harus kuat tapi bukan untuk mengalahkan termaksud pada kelak yang bakalan nemenin kita menyempurnakan separuh agama kan ya. Kelau berjalan bisa beriringan kenapa juga harus memilih menjadi pemenang. Pemenang itu nanti ketika kelak membangun rumah tangga samai ke syurga .. InsyaAllah
Semangat membahas untuk birrul walidain dulu.  Birrul walidain adalah bagian dalam etika Islam yang menunjukan kepada tindakan berbakti (berbuat baik) kepada kedua orang tua. Semalam entah atas dasar apa ami menanyakan tentang kesiapan aku menikah. Tepatnya tahun kemarin sebelum aku di wisuda aku sempat mengutarakan bagaimana murobi/wali menyatakan tentang taaruf. Amy adalah tempat aku sharring dan respon amy mengungkap bahwasanya aku masihlah sangat muda. Mungkin melihat dari umur amy pun menikah diusia dua puluh dua tahun. Amy mengutarakan untuk aku giat bekerja dulu. Dan aku putuskan “iya” untuk tidak membahas taarufku lagi. Dan entah ada apa semalam seperti amy mengungkapkan lagi perihal itu. Apakah aku memang mau menikah ditahun ini ?

Jawaban ku hambar karena aku tahu amy belum memberikan restu dengan hati yang lapang. Ketika aku berbicara ingin mengabil tesis pun sepertinya jawabannya sama menginginkan aku untuk menabung untuk hal lain. Lambat laun pun luluh mengizinkan untuk aku ambil studi tesis. Percakapan semalam pun berakhir dan berkesimpulan untuk aku tidak membahasnnya lagi. Satu kata yang terngiang di telinga “andaikan amy dulu ada yang memberikan saran tentang bekal menikah, amy pasti akan menundanya dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya”. Agak alot percakapan semalam tetapi aku tahu sayangnya amy agar aku paham betul hakikatnya menikah.

Pesan murabi/wali ku birrul walidain itu wajib dan menikah itu sunah. Kuharap postingan ini sebagai bentuk belajar bahwa menikah itu bukan hanya perkara siap dan menyiapkan ternyata ada yang penting restu. Karena kita sadar Ridho Allah itu Ridho orangtua. Taaruf memang lagi trendy dan menikah muda juga gak kalah ngehits. Tetap harus diingat kita harus belajar ilmunya dulu karena kita yang menjalankan. Menikah bukan untuk membuktikan kepada dia ataupun mereka. Menikah merupakan penyempurnaan separuh agama dan kita menjalankan sunah nabi kita. semoga semua sesuai syariat islam dan Allah meridhoi langkah kita.

Afwan jiddan, anak amy tetap akan belajar sampai amy restu dan meng-iya-kan dengan senyuman. Paham my akupun mengkaji islam baru seujung kuku. Satu yang pasti my, setiap detik kita sudah ada yang atur dan kita lebih berjodoh pada kematian. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita. Jodoh kita ketika yang mengucap akad didepan wali kita…kalau yang masih diluaran sampai belum proses akad itu masih milik Allah karena diri ini pun milik Allah dan ini hanya titipin. Bersabarlah wahai hati belajar memantaskan diri kepada ilahi Rabbi. InsyaAllah  inilah inti sebuah cerita, harapan setiap hambanya adalah ampunan sang pencipta dan syafaat dari Rasul kita.
  
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi Muslim dan Muslimah mulai dari dalam kandungan hingga liang lahat.” (HR. Bukhari).

No comments:

Post a Comment