Image : Tumbler
Kepada
Sahabatku, Saudaraku, penjaga rahasia-rahasiaku, dan teman seperjuangan ku,
Di
tengah kesibukanmu memilih untuk melepas status lajang mu, dan sebentar
lagi menjadi ibu untuk anak-anak manis, kuharap kau punya waktu untuk
berhenti sejenak dan membaca. Mungkin kau sedikit terkejut
melihat suratku. Betapa ini adalah kejadian luar biasa, kuluangkan sedikit
untuk mengungkapkan perasaan lewat surat yang tertulis rapi.
“Bukankah
kamu tinggal mengirimkan message saja, kalau memang ingin
bicara?”, mungkin
begitu pikirmu.
Tapi
semenjak hari mengikat janjimu terlaksana, semua tak akan lagi sama. Surat ini
kumaksudkan sebagai pengantar, sebelum kamu memasuki pintu gerbang kehidupan
yang semakin membuatmu harus banyak bersabar dan sibuk yang berkepanjangan. Doa untukmu tak lelah kukirimkan dari setiap ayat-ayat
Allah yang aku haturkan.
Tahukah
kau, saat pertama kali kita berkenalan, kau seperti saudaraku yang sudah lama
hilang. Rasanya baru kemarin aku
berkenalan denganmu. Kau yang ada diantara ratusan orang, tiba-tiba saja kita kenal dengan begitu saja dari kata yang
renyah dan biasa hingga tawa mulai menghiasi wajah. Hingga kau tak pernah lupa dengan cara bicara ku yang seperti kereta tiada
hentinya. Senyum ramahmu seolah memberiku peluang, kita bisa menjadi teman.
Bahagianya, seperti menemukan saudara yang telah lama hilang dari kehidupan.
Kita
bukan pinang dibelah dua, tapi kita layaknya roda yang ada dalam satu rakitan
sepeda. Begitulah caramu mengisi hidupku menjadi lebih seimbang.
Waktu
demi waktu kita tumbuh bersama menjadi seorang manusia. Memulai persahabatan
denganmu seperti meramu jamu. Terkadang aku perlu merelakan lentik tangan
terganti warna kuning kunyit yang harus ikhlas kubiarkan berminggu-minggu
bertengger di tanganku. Namun segala lelucon dan masukanmu membuatku tahu bahwa
ada akhir baik yang sedang kita tuju.
Bahagia
dan duka bukan lagi menjadi rahasia. Bagi kita, semuanya layaknya roti yang
dibelah dua, potongan yang kita bagi bersama terasa lebih renyah saat dinikmati
berdua.
Menguntai
hidup dengan menjadi sahabatmu membuatku tidak ragu untuk berbagi segala
hal yang terjadi dalam kompas kehidupanku. Ingatkah kau saat aku bercerita
keluargaku dan bagaimana dulu aku menceritakan tentang pasangan? Hingga kamu
lelah betapa banyak teman pria yang mendekat hanya untuk singgah dan pergi
kembali ? semua kuceritakan dengan gamblang
tanpa rasa malu menjalari. Kaulah yang jadi saksi mata pertama betapa aku tiada
hentinya bercerita yang kadang mengusik hati dan fikiranku.
Karena
rasa bahagia terasa lebih sedap saat aku bisa melahapnya bersama
dengamu.Ingatkah kau saat aku sedang patah hati karena ditinggal pergi? Cinta
yang kuimpikan tidak lagi bersemi. Aku tidak bingung ketika mencari tangan yang
bisa membagiku untuk berdiri tegak. Aku punya tempat dimana aku tidak akan malu
untuk menangisi hal-hal yang lugu. Aku tidak lagi pura-pura tegar untuk menahan
beban. Karena di hadapanmu, aku tidak merasa perlu menutupi sesuatu.
Walau
kau sering kuributi dengan kegalauanku yang tak ada habisnya, rasanya telingamu
selalu terbuka untuk menerima cerita. Rasa
pahitnya hidup terasa lebih nyaman untuk dicerna saat ada kau yang selalu
mengingatkanku.
Kau adalah
rumah yang tidak pernah membuatku ragu untuk singgah sewaktu-waktu. Meski kau
seringkali lelah mendengar ceritaku, tapi nyatanya kaulah orang yang paham
bagaimana aku.
Pagi,
siang, malam bukan lagi jadi batasan waktu untuk aku mengirimkan pesan kepadamu.
Hal-hal ambigu tidak lagi berlaku. Tengah malam tak menyurutkan niatku untuk
menggangu tidurmu dengan curhatanku yang harus kulontarkan. Kalaupun akan membalas pesanku
keesokan harinya kurasa aku tetap merasa berharga. Sampai-sampai beberapa kali aku juga harus meminjam
bajumu atau keperluan makan yang selalu lupa untuk aku kembalikan.
Apapun
itu, bukankah kau yang paling mengerti aku? Disaat masa-masa akhir bulan kau
yang paling rajin menawariku makan gratis dengan menu kesukaanku, mata kuliah yang
begitu menguras fikiran hingga ujiaan menjelang, sampai kegalauanku soal cinta
yang yang mungkin
slalu begitu saja.
Seperti
bagian yang tidak pernah alpa untuk diceritakan dalam sejarah. Cerita
hidupmu menjadi ceritaku juga. Begitupun sebaliknya. Meski sesekali kau lelah
mendengar celotehanku yang tidak ada habisnya. Kau tetap saja tidak
pernah bosan untuk membuka telinga.
Tapi
ketahuilah, nyatanya kamulah orang yang tahu seluk beluk bagaimana aku
sebenarnya. Kita berdua tahu, menikah adalah hal yang kau
tunggu-tunggu. Hingga tiba saatnya kabar bahagia itu sampai di telingaku,
akulah orang yang paling tersentuh. Rasanya, bahagiaku tak lagi terukur.
Persahabatan
kita sebenarnya tidak sepi masalah. Sesekali aku mendapatimu jengkel karena aku
yang pelupa dan sikap ku yang sering marah tanpa sebab. Kita juga pernah saling
diam beberapa waktu karena aku sibuk dengan urusan-urusan yang ku punya.
Ah,
hidup berdampingan denganmu seperti makan coklat, sesekali lidah kita mendapati
rasa pahit disela-sela kunyahan. Tapi itu bukan masalah, karena kita selalu
punya cara untuk menemukan hal yang bisa ditertawakan.
Aku
ingat betul saat kau menceritakan hubunganmu dengan pasangan yang akan
segera menuju pelaminan. Tanpa banyak bicara dengan wajah yang merona sambil
menunjukan cincin di jari manismu.
“Aku
sudah dilamar”.
Kejutan
terindah sudah ada didepan mata. Kita berdua sama-sama seperti masih tidak
percaya. Wajahmu yang ceria dengan genangan air mata gembira membuatku merasa
girang. Sungguh, akulah orang pertama yang bahagia saat orang yang selama
ini kau impikan akhirnya datang menawarkan cinta.
Pelukan
kita adalah bentuk kata kehidupan yang kita bagi bersama.
Hatiku
menjadi penuh syukur yang bertumpuk-tumpuk. Doa yang aku panjatkan tidak lagi
sesederhana kamu lancar dalam mengerjakan ujian, tapi tentang kau akan menjadi
orang yang lebih baru.
Melihatmu
bahagia di pelaminan menimbulkan pertanyaan. Masihkah kelak pundakmu dengan
mudah bisa kutemukan?
Apakah
pundakmu masih bisa untukku bersandar?
Saat
kau menjadi ratu seharian, memandangmu sudah
berdampingan membuatku haru berkesudahan. Bercampur bahagia, aku kadang
berfikir ulang. Benarkah itu kau, yang dulu saban hari risau efek
protectivenya pasangan? Benarkah itu kau yang dulu pernah bingung efek
batasan terhadap teman lawan jenis?
Entah
kenapa, cerita tentang persahabatan kita terputar kembali di sana. Kau yang
melucu saat aku sedang butuh dihibur, kau yang selalu menawarkan makan ketika
aku lapar, aku yang selalu menarik jilbabmu efek ulahku yang tak bisa diam.
Entah apa yang aku pikirkan sekarang, tiba-tiba saja semua menjadi teramat
melankolis saat dirasakan.
Jujur,
ada rasa yang tidak bisa kuterjemahkan. Aku menjadi bertanya-tanya apakah
aku masih bisa jail satu sama lain?
Mungkin
terasa berbeda sekarang, tetapi aku ingin kau tahu aku masih leluasa untuk
berdoa tetang kebahagiaanmu.
Bersahabat
denganmu membuatku menjadi tahu, rasa sayang bukan hanya soal mata yang
saling menatap, tapi juga hati yang tak pernah berhenti mendoakan.
Saat kau
didekap pasanganmu, aku sungguh terharu betapa bahagianya kalian yang akan
selalu menjadi satu. Tapi akankah kau tetap membagi cerita hidupmu padaku
seperti dulu?
Bagaimana
rasanya menikah? Bagaimana rasanya mengandung dan sebentar lagi melahirkan
bocah lucu kebanggaan ?
Hingga
hari ini, aku kadang masih ingin tahu bagaimana hidupmu? Yang mampu kamu
ceritakan hanya secara random dan kadang tak berujung dilanjutkan dengan topic
yang baru dan itu pun hanya menggunakan kode-kode lisan yang tak beraturan. Ah,
entah kenapa aku memang selalu menjadi orang yang seringkali mengkhawatirkanmu,
semoga semua baik-baik saja.
Hei,
apakah kau sekarang malu bercerita denganku?
Aku
sadar, roti yang kau punya tidak lagi harus selalu dibagi menjadi dua seperti
dulu. Kau sudah punya tempat kemana harus membagi kisahmu. Kau punya tempat
pulang yang tidak akan membuatmu bosan. Kau punya kewajiban untuk tidak
mengumbar peliknya rumah tanggamu pada siapapun. Tidak juga padaku. Aku tidak
apa-apa, bukankah memang begitu lebih baiknya? Meski terkadang hidupku
menjadi tidak seseru yang dulu.
Sahabatku,
tahukah kau? Masih ada cawan didalam diriku yang bisa kau tuangi sekali waktu.
Tentang apapun itu, kau bisa datang untuk membagi ceritamu padaku.
Cerita
hidup yang seringkali jadi milik kita bersama, pasti akan lebih banyak kau bagi
dengannya. Meski kita jadi jarang bersua, rasa bahagiaku menjadi sahabatmu
tetaplah sama.
Kita
masih sama….
Setelah
menikah, nampaknya kau masih sering kali
bingung untuk masalah-masalah yang kau hadapi hingga kau sering tuangkan di
setiap postingan blogmu. Tetapi itu hanya bentuk sharring yang kau buat, ku tau
kau sudah memikirkan setiap tindakan yang kau lakukan. Bahagiamu adalah
bahagiaku. Begitulah kita memaknai persahabatan kita dari dulu.
Terkadang
kita hanyalah sebuah lego yang bisa dibentuk apa saja. Kita adalah manusia
fleksibel yang bisa berperan dalam posisi apa saja. Dengan statusmu yang
sudah berubah, bukan alasan kita tidak lagi bertegur sapa seperti dulu. Tapi kita punya cara yang berbeda untuk
tetap melaju bersama.
Sampai
kapanpun, kau tetaplah sahabatku. Aku tetaplah sahabatmu. Tidak akan ada
yang berubah jika kita dihadapkan dalam satu ruang yang sama. Aku selalu
punya bagian yang bisa kau isi sesukanya. Aku menjadi orang yang selalu bisa
kau hubungi setiap waktu saat kau sedang jemu. Jika kau punya waktu luang
setelah mengurus rumah tangga kita bisa cerita bersama menertawai hidup seperti
biasanya.
Karena
persahabatan bukan tentang seringnya keberadaan. Adanya pasangan bukan menjadi
alasan kita untuk saling mengalpakan. Ketahuilah, aku akan selalu ada setiap
kau butuh saran.
Datanglah
jika kau butuh saran dan masukan..
Meski
aku belum menikah, aku tidak pernah lupa untuk belajar bagaimana rasanya
menikah. Belajar dari orangtuaku, buku, dan kau. Kita
yang dulu selalu saling memberikan saran, sekarang tidak lagi ada
untuk memberikan penawaran. Kau dan aku mungkin jadi lebih dewasa untuk
memecahkan masalah.
Tapi
satu hal yang perlu kau tahu, semua rahasiamu masih aman untuk kusimpan seperti
janjiku.
Kau
tidak perlu ragu untuk menceritakan sesuatu padaku, siapa tahu aku bisa
membantumu. Kau tidak perlu lagi sungkan untuk meminta saranku, siapa tahu aku
bisa memberikan pencerahan.
Beginilah
caranya aku menyayangimu. Meski kita tidak pernah bisa lagi sering bersua,
rasa persaudaraan kita tetaplah sama. Karena kita tahu, menikah bukanlah alasan
untuk saling mengalpakan hubungan kita yang dulu. Kau masih menjadi orang
penting dalam hidupku, begitupun sebaliknya.
Semoga
hidupmu selalu baik-baik saja, sahabatku.
From : Aku,
Sahabat
mu yang selalu membuat mu jengkel karena sifat pelupa :)
#Barakallah
Article aslinya kalimat fiksi inspirasi Disini

No comments:
Post a Comment