Friday, January 16, 2015

Surat Ku untuk Mu-Sahabatku



 Image : Tumbler 

Kepada Sahabatku, Saudaraku, penjaga rahasia-rahasiaku, dan teman seperjuangan ku,

Di tengah kesibukanmu memilih untuk melepas status lajang mu, dan sebentar lagi menjadi ibu untuk anak-anak manis, kuharap kau punya waktu untuk berhenti sejenak dan membaca. Mungkin kau sedikit terkejut melihat suratku. Betapa ini adalah kejadian luar biasa, kuluangkan sedikit untuk mengungkapkan perasaan lewat surat yang tertulis rapi.

“Bukankah kamu tinggal mengirimkan message saja, kalau memang ingin bicara?”, mungkin begitu pikirmu.

Tapi semenjak hari mengikat janjimu terlaksana, semua tak akan lagi sama. Surat ini kumaksudkan sebagai pengantar, sebelum kamu memasuki pintu gerbang kehidupan yang semakin membuatmu harus banyak bersabar dan sibuk yang berkepanjangan. Doa untukmu tak lelah kukirimkan dari setiap ayat-ayat Allah yang aku haturkan.

Tahukah kau, saat pertama kali kita berkenalan, kau seperti saudaraku yang sudah lama hilang. Rasanya baru kemarin aku berkenalan denganmu. Kau yang ada diantara ratusan orang, tiba-tiba saja kita kenal dengan begitu saja dari kata yang renyah dan biasa hingga tawa mulai menghiasi wajah. Hingga kau tak pernah lupa dengan cara bicara ku yang seperti kereta tiada hentinya. Senyum ramahmu seolah memberiku peluang, kita bisa menjadi teman. Bahagianya, seperti menemukan saudara yang telah lama hilang dari kehidupan.

Kita bukan pinang dibelah dua, tapi kita layaknya roda yang ada dalam satu rakitan sepeda. Begitulah caramu mengisi hidupku menjadi lebih seimbang.

Waktu demi waktu kita tumbuh bersama menjadi seorang manusia. Memulai persahabatan denganmu seperti meramu jamu. Terkadang aku perlu merelakan lentik tangan terganti warna kuning kunyit yang harus ikhlas kubiarkan berminggu-minggu bertengger di tanganku. Namun segala lelucon dan masukanmu membuatku tahu bahwa ada akhir baik yang sedang kita tuju.

Bahagia dan duka bukan lagi menjadi rahasia. Bagi kita, semuanya layaknya roti yang dibelah dua, potongan yang kita bagi bersama terasa lebih renyah saat dinikmati berdua.

Menguntai hidup dengan menjadi sahabatmu membuatku tidak ragu untuk berbagi segala hal yang terjadi dalam kompas kehidupanku. Ingatkah kau saat aku bercerita keluargaku dan bagaimana dulu aku menceritakan tentang pasangan? Hingga kamu lelah betapa banyak teman pria yang mendekat hanya untuk singgah dan pergi kembali ? semua kuceritakan dengan gamblang tanpa rasa malu menjalari. Kaulah yang jadi saksi mata pertama betapa aku tiada hentinya bercerita yang kadang mengusik hati dan fikiranku.

Karena rasa bahagia terasa lebih sedap saat aku bisa melahapnya bersama dengamu.Ingatkah kau saat aku sedang patah hati karena ditinggal pergi? Cinta yang kuimpikan tidak lagi bersemi. Aku tidak bingung ketika mencari tangan yang bisa membagiku untuk berdiri tegak. Aku punya tempat dimana aku tidak akan malu untuk menangisi hal-hal yang lugu. Aku tidak lagi pura-pura tegar untuk menahan beban. Karena di hadapanmu, aku tidak merasa perlu menutupi sesuatu.

Walau kau sering kuributi dengan kegalauanku yang tak ada habisnya, rasanya telingamu selalu terbuka untuk menerima cerita. Rasa pahitnya hidup terasa lebih nyaman untuk dicerna saat ada kau yang selalu mengingatkanku.

Kau adalah rumah yang tidak pernah membuatku ragu untuk singgah sewaktu-waktu. Meski kau seringkali lelah mendengar ceritaku, tapi nyatanya kaulah orang yang paham bagaimana aku.

Pagi, siang, malam bukan lagi jadi batasan waktu untuk aku mengirimkan pesan kepadamu.  Hal-hal ambigu tidak lagi berlaku. Tengah malam tak menyurutkan niatku untuk menggangu tidurmu dengan curhatanku yang harus kulontarkan. Kalaupun akan membalas pesanku keesokan harinya kurasa aku tetap merasa berharga. Sampai-sampai beberapa kali aku juga harus meminjam bajumu atau keperluan makan yang selalu lupa untuk aku kembalikan.

Apapun itu, bukankah kau yang paling mengerti aku? Disaat masa-masa akhir bulan kau yang paling rajin menawariku makan gratis dengan menu kesukaanku, mata kuliah yang begitu menguras fikiran hingga ujiaan menjelang, sampai kegalauanku soal cinta yang yang mungkin slalu begitu saja.

Seperti bagian yang tidak pernah alpa untuk diceritakan dalam sejarah. Cerita hidupmu menjadi ceritaku juga. Begitupun sebaliknya. Meski sesekali kau lelah mendengar celotehanku yang tidak ada habisnya. Kau tetap saja tidak pernah bosan untuk membuka telinga.

Tapi ketahuilah, nyatanya kamulah orang yang tahu seluk beluk bagaimana aku sebenarnya. Kita berdua tahu, menikah adalah hal yang kau tunggu-tunggu. Hingga tiba saatnya kabar bahagia itu sampai di telingaku, akulah orang yang paling tersentuh. Rasanya, bahagiaku tak lagi terukur.

Persahabatan kita sebenarnya tidak sepi masalah. Sesekali aku mendapatimu jengkel karena aku yang pelupa dan sikap ku yang sering marah tanpa sebab. Kita juga pernah saling diam beberapa waktu karena aku sibuk dengan urusan-urusan yang ku punya.

Ah, hidup berdampingan denganmu seperti makan coklat, sesekali lidah kita mendapati rasa pahit disela-sela kunyahan. Tapi itu bukan masalah, karena kita selalu punya cara untuk menemukan hal yang bisa ditertawakan.

Aku ingat betul saat kau menceritakan hubunganmu dengan pasangan yang akan segera menuju pelaminan. Tanpa banyak bicara dengan wajah yang merona sambil menunjukan cincin di jari manismu.
“Aku sudah dilamar”.

Kejutan terindah sudah ada didepan mata. Kita berdua sama-sama seperti masih tidak percaya. Wajahmu yang ceria dengan genangan air mata gembira membuatku merasa girang.  Sungguh, akulah orang pertama yang bahagia saat orang yang selama ini kau impikan akhirnya datang menawarkan cinta.

Pelukan kita adalah bentuk kata kehidupan yang kita bagi bersama.

Hatiku menjadi penuh syukur yang bertumpuk-tumpuk. Doa yang aku panjatkan tidak lagi sesederhana kamu lancar dalam mengerjakan ujian, tapi tentang kau akan menjadi orang yang lebih baru.

Melihatmu bahagia di pelaminan menimbulkan pertanyaan. Masihkah kelak pundakmu dengan mudah bisa kutemukan?

Apakah pundakmu masih bisa  untukku bersandar?

Saat kau menjadi ratu seharian, memandangmu sudah berdampingan membuatku haru berkesudahan. Bercampur bahagia, aku kadang berfikir ulang.  Benarkah itu kau, yang dulu saban hari risau efek protectivenya pasangan? Benarkah itu kau yang dulu pernah bingung efek batasan terhadap teman lawan jenis?

Entah kenapa, cerita tentang persahabatan kita terputar kembali di sana. Kau yang melucu saat aku sedang butuh dihibur, kau yang selalu menawarkan makan ketika aku lapar, aku yang selalu menarik jilbabmu efek ulahku yang tak bisa diam. Entah apa yang aku pikirkan sekarang, tiba-tiba saja semua menjadi teramat melankolis saat dirasakan.

Jujur, ada rasa yang tidak bisa kuterjemahkan. Aku menjadi bertanya-tanya apakah aku masih bisa jail satu sama lain?

Mungkin terasa berbeda sekarang, tetapi aku ingin kau tahu aku masih leluasa untuk berdoa tetang kebahagiaanmu.
Bersahabat denganmu membuatku menjadi tahu, rasa sayang bukan hanya soal mata yang saling menatap, tapi juga hati yang tak pernah berhenti mendoakan.

Saat kau didekap pasanganmu, aku sungguh terharu betapa bahagianya kalian yang akan selalu menjadi satu. Tapi akankah kau tetap membagi cerita hidupmu padaku seperti dulu?

Bagaimana rasanya menikah? Bagaimana rasanya mengandung dan sebentar lagi melahirkan bocah lucu kebanggaan ?

Hingga hari ini, aku kadang masih ingin tahu bagaimana hidupmu? Yang mampu kamu ceritakan hanya secara random dan kadang tak berujung dilanjutkan dengan topic yang baru dan itu pun hanya menggunakan kode-kode lisan yang tak beraturan. Ah, entah kenapa aku memang selalu menjadi orang yang seringkali mengkhawatirkanmu, semoga semua baik-baik saja.

Hei, apakah kau sekarang malu bercerita denganku?

Aku sadar, roti yang kau punya tidak lagi harus selalu dibagi menjadi dua seperti dulu. Kau sudah punya tempat kemana harus membagi kisahmu. Kau punya tempat pulang yang tidak akan membuatmu bosan. Kau punya kewajiban untuk tidak mengumbar peliknya rumah tanggamu pada siapapun. Tidak juga padaku. Aku tidak apa-apa, bukankah memang begitu lebih baiknya? Meski terkadang hidupku menjadi tidak seseru yang dulu.

Sahabatku, tahukah kau? Masih ada cawan didalam diriku yang bisa kau tuangi sekali waktu. Tentang apapun itu, kau bisa datang untuk membagi ceritamu padaku.
Cerita hidup yang seringkali jadi milik kita bersama, pasti akan lebih banyak kau bagi dengannya. Meski kita jadi jarang bersua, rasa bahagiaku menjadi sahabatmu tetaplah sama.

Kita masih sama…. 

Setelah menikah, nampaknya  kau masih sering kali bingung untuk masalah-masalah yang kau hadapi hingga kau sering tuangkan di setiap postingan blogmu. Tetapi itu hanya bentuk sharring yang kau buat, ku tau kau sudah memikirkan setiap tindakan yang kau lakukan. Bahagiamu adalah bahagiaku. Begitulah kita memaknai persahabatan kita dari dulu.

Terkadang kita hanyalah sebuah lego yang bisa dibentuk apa saja. Kita adalah manusia fleksibel yang bisa berperan dalam posisi apa saja. Dengan statusmu yang sudah berubah, bukan alasan kita tidak lagi bertegur sapa seperti dulu. Tapi kita punya cara yang berbeda untuk tetap melaju bersama.

Sampai kapanpun, kau tetaplah sahabatku. Aku tetaplah sahabatmu. Tidak akan ada yang berubah jika kita dihadapkan dalam satu ruang yang sama. Aku selalu punya bagian yang bisa kau isi sesukanya. Aku menjadi orang yang selalu bisa kau hubungi setiap waktu saat kau sedang jemu. Jika kau punya waktu luang setelah mengurus rumah tangga kita bisa cerita bersama menertawai hidup seperti biasanya.

Karena persahabatan bukan tentang seringnya keberadaan. Adanya pasangan bukan menjadi alasan kita untuk saling mengalpakan. Ketahuilah, aku akan selalu ada setiap kau butuh saran.
Datanglah jika kau butuh saran dan masukan.. 

Meski aku belum menikah, aku tidak pernah lupa untuk belajar bagaimana rasanya menikah. Belajar dari orangtuaku, buku, dan kau. Kita yang dulu selalu saling memberikan saran, sekarang tidak lagi ada untuk memberikan penawaran. Kau dan aku mungkin jadi lebih dewasa untuk memecahkan masalah.

Tapi satu hal yang perlu kau tahu, semua rahasiamu masih aman untuk kusimpan seperti janjiku.
Kau tidak perlu ragu untuk menceritakan sesuatu padaku, siapa tahu aku bisa membantumu. Kau tidak perlu lagi sungkan untuk meminta saranku, siapa tahu aku bisa memberikan pencerahan.

Beginilah caranya aku menyayangimu. Meski kita tidak pernah bisa lagi sering bersua, rasa persaudaraan kita tetaplah sama. Karena kita tahu, menikah bukanlah alasan untuk saling mengalpakan hubungan kita yang dulu. Kau masih menjadi orang penting dalam hidupku, begitupun sebaliknya.
Semoga hidupmu selalu baik-baik saja, sahabatku.

 From : Aku,
Sahabat mu yang selalu membuat mu jengkel karena sifat pelupa :)

#Barakallah 


Article aslinya kalimat fiksi inspirasi  Disini

No comments:

Post a Comment